Boleh Masuk Istana Tanpa Sandal Hanya di Masa jokowi

Empat putra Baduy datang memenuhi undangan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Mereka datang ke Istana Merdeka merayakan peringatan kemerdekaan ke-71 Indonesia. Namun mereka datang ke sini bukan tanpa aspirasi.


Bertelanjang kaki di Istana, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta, Kamis (17/8/2017), Mursid, Karim, Damar, dan Arip nampak berada di barisan terdepan di kursi 'permohonan khusus'.

Mereka mengenakan pakaian hitam dan celana hitam selutut, ada udeng biru di kepala mereka. Mereka sudah berada di Jakarta sejak kemarin setelah menempuh perjalanan kereta api dari Rangkasbitung. Rumah mereka ada di kawasan Baduy Luar, Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Lebak, Banten.

"Kami datang atas undangan dari Presiden," kata Mursid.

Di Jakarta, mereka sudah sempat menginap di rumah penasihat mereka, Edmund Rolando, yang sekarang duduk di sebelahnya. Pagi-pagi, mereka sudah duduk di sini.

Mursid mengungkapkan aspirasi pertama masyarakatnya, "Kami ingin Sunda Wiwitan tercantum di KTP, biar kolomnya nggak kosong."

Sunda Wiwitan adalah kepercayaan masyarakat Baduy yang dipertahankan dan terus diperjuangkan. Mursid ingin negara mengakui kepercayaan orang Baduy.

Aspirasi kedua, Mursid dan masyarakat Baduy ingin agar tanah adat mereka dilindungi. Ada perluasan pembangunan oleh pendatang yang mengancam tanah adat. Lahan mereka terancam berubah menjadi perumahan, ruko, dan minimarket, atau pembangunan lainnya.

"Kami minta ada perbatasan yang lebih pasti supaya tanah adat tidak diganggu," kata Mursid.

Sehari-hari Mursid dan masyarakat Baduy pada umumnya bekerja sebagai petani, menanam padi di lahan kering (non-irigasi), menanam cabe, jahe merah, mengambil gula aren, dan membuat kerajinan tangan untuk dijual.

"Bikin kerajinan gelang rotan, tas kulit kayu sarai seperti yang saya pakai ini, dan yang perempuan biasa menenun," tutur Mursid.